| Muhammad Al Fatih Sang Penakluk |
|
|
|
| Sunday, 07 February 2010 | |
|
“Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada dibawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR. Ahmad bin Hanbal) Ramalan Rasulullah Saw yang diucapkan ketika Perang Khandaq tersebut benar-benar menjadi kenyataan pada hari Selasa tanggal 20 Jumadil Ula 857 H atau tanggal 29 Mei 1453 M. Konstantinopel yang sebelumnya dikuasai oleh Kekaisaran Romawi Timur (Byzantium) dianggap sebagai kota teraman dan terlindungi karena memiliki benteng terkuat di dunia. Namun ternyata, kota terkuat sedunia tersebut berhasil ditaklukkan oleh pasukan yang berada di bawah pimpinan seseorang bernama Sultan Muhammad Khan. Sejak itu, Muhammad Khan diberi gelar Al Fatih (Sang Pemfutuhat/Pembebas) dan dikenal di dunia Barat sebagai Mehmed The Conqueror. Muhammad Al Fatih (1431-1481 M), putra dari Sultan Murad II, merupakan sultan yang memerintah Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman Empire) sejak tahun 1451 M. Muhammad Al Fatih kecil pada awalnya termasuk anak yang manja dan malas belajar. Namun Muhammad Al Fatih mulai serius belajar setelah ayahnya mendatangkan beberapa guru seperti Syeikh Ahmad bin Ismail Al-Kurani, Syeikh Aag Syamsudin, dan yang lainnya. Dari mereka, Muhammad Al Fatih belajar ilmu agama, bahasa, ketrampilan, fisik, geografi, falak, dan sejarah. Muhammad Al Fatih tumbuh menjadi seseorang yang ahli berperang dan pandai berkuda, pakar di bidang sains dan matematika, dan menguasai 6 bahasa sejak berusia 21 tahun. Muhammad Al Fatih merupakan pemuda cerdas yang memiliki kemauan keras untuk mewujudkan cita-citanya, terutama untuk menaklukkan Konstantinopel sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw bahkan sejak beliau berusia 12 tahun. Keberhasilan Muhammad Al Fatih dalam menaklukkan Konstantinopel tidak didapatkan begitu saja. Muhammad Al Fatih memperkuat kekuatan militer Utsmani dengan memilih dan menyeleksi calon prajurit bahkan sejak mereka masih kecil. Tim khusus diperintah untuk menyebar ke seluruh Turki dan sekitarnya untuk mencari anak-anak yang paling pandai, paling rajin ibadahnya, dan paling kuat fisiknya. Kemudian orang tuanya diberikan tawaran untuk dilakukan pembinaan sejak dini terhadap anak mereka. Setelah sepakat, anak-anak terpilih itu diberi pembinaan agama, ilmu pengetahuan, dan militer, serta seluruh kehidupannya ditanggung oleh negara. Tidak salah jika tentara Muhammad Al Fatih tidak pernah meninggalkan sholat wajib sejak baligh, bahkan separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan sholat tahajud sejak baligh. Muhammad Al Fatih sendiri disebutkan tidak pernah meninggalkan tahajud dan shalat rawatib sejak baligh hingga wafat. Dikisahkan pada waktu pertama kali shalat berjamaah akan diadakan setelah penaklukan, Muhammad Al Fatih berkata : "Barangsiapa yang merasa tidak pernah masbuq dalam shalatnya silakan menjadi imam shalat kita”. Ditunggu-tunggu, ternyata tidak ada yang maju. Kemudian dengan mantap Muhammad Al Fatih sendiri yang menjadi imam di bekas gereja di Konstantinopel tersebut. Mungkin itulah rahasia keberhasilan Muhammad Al Fatih dalam mewujudkan cita-citanya dan cita-cita umat Islam, bukan kekuatan fisik, namun kedekatan kepada Allah SWT. Rahasia yang kemudian beliau salurkan kepada tentaranya dengan cara menjaga shalat wajib, shalat tahajud, dan shalat rawatib. Dalam usia 22 tahun, Muhammad Al Fatih telah menaklukkan kota yang dijanjikan Nabi delapan abad sebelumnya. Setelah direbut, kota Konstantinopel diganti dengan nama Islambul (kota Islam), dan sekarang bernama Istanbul (diganti oleh Mustafa Kemal Ataturk). Banyak kawan bahkan lawan mengagumi kepemimpinan seorang Muhammad Al Fatih dan strategi peperangannya yang dikatakan mendahului jamannya. Beliau berperan besar dalam perluasan wilayah Islam, menata negerinya, melakukan perbaikan dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Dalam kepemimpinannya, Islambul menjadi pusat pemerintahan yang sangat indah, maju, dan menjadi bandar ekonomi yang sukses. Itulah Muhammad Al Fatih, seseorang yang menyimpan energi ruhiyah yang luar biasa dan menjadi pribadi yang mulia. Lalu bagaimana dengan kita? Prestasi apa yang sudah kita torehkan dalam usia kita yang semakin bertambah? (asj/dari berbagai sumber) |
| < Prev | Next > |
|---|
Terbaru di USC
DEAR QURANDauroh Pelajar QuranAhad, 29 Agustus 2010 pk.07.00 oleh cp : Ukhti Harmi (085646120127) |
Main Menu
| Home |
| Tentang Uswah |
| Berita |
| Artikel |
| Galeri |
| Radio |
| Donasi |
| Buletin Beda |
| buku tamu |
Login Form
Galeri



