Belajar dari Balik Layar Suara Hidayatullah
Wednesday, 24 March 2010

 

 

Rabu, 3 Maret 2010 Departemen Jaringan dan Media (Jarmed) Uswah Student Center jalan-jalan ke Hidayatullah. Tentunya gak sekedar jalan-jalan, tim Jarmed ingin banyak belajar dari balik layar Hidayatullah, penerbit majalah Suara Hidayatullah yang telak eksis puluhan tahun. Empat orang perwakilan Tim Jarmed mulai pukul 9 pagi hingga 12 siang disambut hangat oleh Pak Bambang selaku Asisten Redaktur Pelaksana. Banyak hal yang didapatkan, mulai dari bagaimana memadukan idealisme dan komersialisme kemudian berlanjut tentang merancang sebuah produk yang diawali dengan menentukan visi dan misi, sekmen pembaca, mekanisme kerja redaksi hingga membuat inovasi pada produk tersebut.

 Pak Bambang juga sedikit mengevaluasi buletin BEDA yang telah diterbitkan oleh Uswah Student Center (USC) dari sudut desain logo BEDA, tulisan, dan lay out. Di akhir sesi tanya jawab Pak Bambang juga memberikan tips sukses sebuah media, ada tiga kunci: ridho Allah, soliditas dan totalitas, serta jaringan. Luar biasa!! (asz)

Last Updated ( Saturday, 10 April 2010 )
 
Ketika Perempuan Gaza Berjuang Mempertahankan Hidupnya
Saturday, 10 April 2010

          

     Kisah kesulitan dan keterlilitan ekonomi yang dialami penduduk Gaza, bukanlah cerita baru. Sudah berpuluh-puluh tahun penduduk Gaza berada dalam ketidaktenangan hidup. Bagaimana cara para wanita Gaza, mencari jalan keluar dari kondisi mencekik itu? Bagaimana dengan berbalut kesabaran dan keyakinan, mereka berpikir kreatif untuk bertahan hidup? Ketiadaan banyak penopang hidup di Gaza, di tambah hancurnya infrastruktur kota akibat serangan zionis Israel, mendorong penduduk Gaza untuk berpikir menciptakan ide mencari nafkah untuk menyambung hidup. Di Gaza, karunia Allah swt kembali terbaca. Meski dengan kerja keras dan di tengah kondisi sulit, kaum wanita Gaza membuktikan ketangguhan mereka membiayai sebagian kebutuhan makan hingga pendidikan anak-anak mereka. Apalagi dengan kondisi sebagian besar suami tak lagi mendapat lahan pekerjaan, kaum wanita Gaza pun memunculkan beragam inisiatif untuk meringankan kesulitan yang mereka alami.

Dari Pakaian Sampai Roti Kacang
Perempuan Gaza, dan umumnya penduduk Gaza, tidak mengandalkan belas kasih berbagai lembaga sosial kemanusiaan yang memberi bantuan sementara untuk mereka. Mereka bahkan melarang anak-anaknya untuk meminta-minta di jalanan. Siapapun yang hadir di Gaza, akan merasakan bagaimana mereka memelihara harga diri, dari meminta dan bahkan menerima bantuan.

Raneya, seorang ibu usia 30-an tahun, tampak sedang duduk di bawah sebuah tenda di pinggir pantai. Ia tekun menjahit sebuah baju indah untuk anak-anak, dengan jahitan tangan. Raneya terdesak untuk mengandalkan kemampuan menjahitnya yang sama sekali tak ia duga. Dalam pikirannya, ia hanya ingin mendapatkan uang dengan cara mulia, karena suaminya tak bisa bekerja seperti ribuan orang suami di Gaza. Sambil menjahit pakaian anak siang itu, Raneya mengatakan, ”Setelah suami saya tidak bisa bekerja, dan dalam situasi kami harus memenuhi kebutuhan mendasar untuk anak-anak, tak ada lagi yang bisa saya lakukan kecuali mengembangkan kemampuan menjahit ini.” Ia melanjutkan, ”Pekerjaan menjahit seperti ini berdasarkan order atau pesanan orang sesuai keinginan mereka. Hasil menjual baju bisa digunakan untuk mengatasi kebutuhan keluarga kami yang banyak.”

Kemahiran menjahit Renaya memang muncul dari kondisi ekonominya yang sudah sulit di Gaza, sehingga sejak lama ia biasa menjahit kembali pakaian bekas untuk anak-anaknya lantaran tidak mampu membelikan pakaian baru. Modal menjahit yang sangat sederhana itu, kemudian berkembang dengan naluri wanitanya, untuk membuat hiasan di pakaian anak-anaknya, agar pakaian itu terlihat seperti baru. Beberapa tetangga rumah melihatnya kemudian sangat tertarik dan mengatakan pakaian itu sangat bagus. ”Mereka bertanya, dari mana membeli pakaian seperti itu.. ? Mereka terkejut ketika aku jawab bahwa pakaian itu adalah hasil jahitan sendiri,” kisah Renaya.

 

Read more...
 
ALLAH PUN MENCINTAI KITA
Saturday, 10 April 2010

 Salah satu ulama Islam besar dunia, imam Hasan Al Banna pernah bertuah, “Orang-orang yang telah mengenal Allah tidak pernah mengizinkan hati mereka untuk memikiran apapun selain-Nya”. Banyak manusia yang mengartikan inilah hakikat sebuah rasa cinta dan kasih sayang. Ketika seorang telah terjerat oleh sebuah rasa ketertarikan terhadap sesuatu, ia tak akan pernah sekalipun membiarkan rasa itu dinikmati oleh selainnya. Perasaan yang terbalut sebuah kesetiaan dan kecemburuan akan terus tergenggam erat dan masuk ke relung hatinya. Dan rasa cinta itu selayaknya kita sebagai manusia tulus persembahkan hanya kepada Dia yang Maha Mulia, Allah SWT.

Tanpa kita sadari secara nyata, ternyata Dzat yang Maha Agung itu, Allah azza wa jala, telah membuat pernyataan sikap cintanya. Sebuah ikrar yang khusus Dia berikan kepada makhluk terlemah. Hanya kepada manusia. Penyataan itu terabadikan dalam sebuah hadits Qudsi riwayat Syaikhani, “Tidak ada amal hamba-Ku yang lebih Aku sukai kecuali menjalankan apa-apa yang telah Aku perintahkan. Dan ketika hamba-hamba-Ku yang tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan amalan sunnat sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku sudah mencintainya, maka Aku yang menjaga telinganya yang dengan telinga itu dia mendengar, Aku menjadi matanya yang dengan mata itu ia melihat, Aku menjadi tangannya yang dengannya ia menggenggam dan Aku menjadi kakinya yang dengannya ia melangkah”.  Subhanallah, inilah sebuah kutipan surat cinta Allah yang membuktikan bahwa Dia mencintai manusia melebihi apa yang kita kira selama ini. Telinga kita, mata kita, tangan kita dan kaki kita, semuanya akan senantiasa terpelihara dengan berkah. Tak terkecuali jiwa kita. Jika jiwa manusia istiqomah dan jernih maka apa saja yang muncul darinya akan shaleh dan indah. 

 

Last Updated ( Saturday, 10 April 2010 )
Read more...
 
Bermimpilah Setinggi Langit
Wednesday, 24 March 2010

“Cita-cita adalah sebuah mimpi yang bertanggal”
-Salim A Fillah-

 

Mimpi, sebuah kata yang mungkin, bagi kita, berkaitan dengan tidur, yang katanya merupakan bunga tidur dan mungkin akan terlupa ketika kita bangun. Tapi dalam kasus ini, mimpi itu adalah sebuah cita-cita, keinginan, harapan, doa, dan sebuah lecutan semangat luar biasa yang membuat diri kita menjadi semakin maju. Sobat, sudah sejauh apa mimpi-mimpi, atau sebut saja cita-cita, pernah kita buat? Ingat saja, apa sih keinginan terbesar sobat dalam hidup ini? Jika dalam hitungan detik sobat belum mampu menerjemahkan dengan gamblang keinginan-keinginan tersebut, itu berarti sobat belum mampu bermimpi. Wahhh,, sayang sekali, padahal mimpi itu gratis loh~~. Dengan mimpi, kita bisa membuat rancangan hidup kita ke depan, tentang apa yang kita inginkan, apa yang boleh kita lakukan untuk mendukung mimpi kita, serta untuk menentukan apa-apa saja yang sebaiknya kita hindari untuk menjauhkan mimpi kita dari sebuah kegagalan. Ketika kita membuat rancangan kehidupan, maka semua usaha kita akan terfokuskan pada hal tersebut, dan membuat hidup kita lebih terarah. Selain itu dengan menciptakan mimpi-mimpi, kita bisa tahu seberapa majukah kehidupan kita di tiap waktunya, apakah kita sudah berjalan maju mendekati mimpi kita, atau malah mundur teratur dan memaksa kita merelakan mimpi-mimpi kita menguap, menjauh dari realita.

 

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 13 - 18 of 66

Terbaru di USC

DEAR QURAN

Dauroh Pelajar Quran

Ahad, 29 Agustus 2010 pk.07.00
Asrama Haji Hall A

oleh

Ust. Mutammimul Ula
(Ayah dari 10 Bintang penghafal AlQuran)
dan Ust. Ali Ridho Al Hafidz

cp :  Ukhti Harmi (085646120127)

 

Login Form






Lost Password?

admin status


faizal :
 

rendra :

Galeri

9.jpg

Polls

Kegiatan apa yang paling ingin kamu lakukan untuk mengisi Ramadhan tahun ini
 

Visitors Counter

total : 87784 pengunjung

Who's Online

We have 8 guests online